- Fotovoltaik. Energi matahari dapat diubah menjadi listrik secara langsung dengan menggunakan fotovoltaik sel, yaitu bahan semikonduktor yang sensitif terhadap sinar matahari. Energi foton dari sinar matahari akan menggerakan elektron dari atom-atom semikonduktor tersebut, gerakan elektron inilah yang disebut listrik. Listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik sel adalah listrik searah (DC). Untuk dapat digunakan oleh rumah tangga yang pada umumnya menggunakan listrik (AC), terlebih dahulu harus melewati inverter. Agar listrik tetap dapat digunakan ketika malam hari atau ketika cuaca mendung maka listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik disimpan terlebih dahulu dalam batere. Beberapa kendala dari pengembangan listrik dari fotovoltaik ini adalah masalah bahan semikonduktor dan media penyimapan listrik (batere) yang mahal. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi semikonduktor dan batere, biaya pembangkitan listrik dari matahari menjadi semakin murah. Pembangkitan listrik dengan cara ini dapat dilakukan dengan sekala kecil seperti dirumah tangga atau bahkan skala mikro misalnya untuk charger HP
- Concentrated solar thermal. Sesuai dengan namanya, konversi energi matahari menjadi listrik dilakukan dengan menkonsentrasikan energi panas matahari untuk memanaskan air manjadi uap dan kemudian digunakan untuk menggerakan turbin. Prinsipnya mirip dengan kompor matahari, dimana energi matahari di fokuskan pada satu titik degan menggunakan cermin cekung. Pada fokus titik itulah air atau minyak pemanas akan dipanaskan. Kelebihan teknologi ini adalah tidak diperlukannya bahan semikonduktor yang mahal. Penyimpanan energi dapat dilakukan dalam minyak pemanas. Minyak dipanaskan menggunakan energi matahari yang telah difokuskan kemudian disimpan dalam tangki tertentu. Minyak panas ini yang kemudian akan digunakan untuk memanaskan air menjadi uap. Minyak harus tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga pada waktu malam hari atau pada kondisi mendung, pembangkit listrik masih bisa beroperasi. Kelemahan teknologi ini dibandingkan dengan fotovoltaik adalah tidak bisa dibuat dalam skala kecil atau rumah tangga.
Listrik dari Matahari
Our Choice
- Karbondioksida. Gas ini menyumbang gas rumah kaca terbesar, sekitar 43% dari efek rumah kaca disebabkan oleh karbondioksida. Gas ini dihasilkan dari proses pembakaran seperti pembangkit energi (PLTU, PLTG, PLTD, dll), kendaraan bermotor, industri, pembakaran hutan, dll. Setiap harinya sekitar 90 juta ton karbon dioksida di emisikan ke atmosfer.
- Metana. Meskipun jumlah emisi metana jauh lebih kecil daripada karbon dioksida tetapi efek rumah kaca yang dihasilkan sekitar 20 kali lebih besar daripada per gram karbondioksida. Gas metana menyumbang sekitar 27% dari efek rumah kaca.
- Partikulat karbon. Karbon ini bukan dalam bentuk gas, tetapi berupa partikel halus dalam atmosfer. Partikulat karbon dihasilkan dari pembakaran biomass di area terbuka seperti pembakaran hutan dan dalam rumah tangga, pembakaran batubara yang tidak sempurna, dll. Partikulat karbon dapat menyebabkan atmosfer menjadi gelap sehingga panas matahari lebih mudah masuk ke bumi dan jika mengendap di salju akan menyebabkan salju berwarna lebih gelap sehingga lebih mudah mencair. Partikulat karbon menyumbang sekitar 12% dari efek rumah kaca.
- Zat-zat lain seperti CFCs, CO, N2O, dll juga turut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca.
Preparing for the coming economic collapse
Konsumsi minyak bumi yang semakin meningkat tidak sejalan dengan peningkatan produksi menyababkan harga minyak bumi meningkat terus. Minyak bumi tidak dapat ditumbuhkan dengan cepat dan cadangan yang ada jumlahnya terbatas, suatu saat nanti pasti akan habis. Trend produksi minyak bumi dunia sudah menunjukkan bahwa produksi minyak bumi sudah di titik maksimum, yang berarti produksi minyak bumi akan mulai menurun.
Sumber-sumber minyak baru memang masih ada, namun kebanyakan diperoleh dari sumber-sumber yang sulit dan mahal, seperti di lautan dalam, shale earth, tar sand, dll. Sumber-sumber ini menjanjikan produksi minyak untuk menopang peningkatan konsumsi untuk sementara waktu, dan pada akhirnya juga akan habis.
Ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi ini akan dapat menimbulkan gejolak yang jika tidak diatasi segera dapat mengakibatkan kejatuhan ekonomi yang besar. Untuk menggerakkan roda ekonomi diperlukan energy yang terus meningkat, sekarang ini suplai energy paling besar adalah minyak bumi. Permasalahan energy ini tidak dapat diselesaikan oleh perorangan, harus pemerintah (semua Negara) yang turun tangan untuk menyelesaikan. Jika para pemimpin dunia gagal untuk mengidentifikasi dan mencari penyelesaian energy ini, maka kejatuhan ekonomi bukan tidak mungkin akan terjadi dengan sangat fatal.
Banyak hal yang harus dilakukan untuk mencegah kejatuhan ekonomi ini, salah satunya adalah dengan mencari sumber energy alternative untuk menggantikan minyak bumi, diantaranya:
- Sumber energy terbaharukan. Banyak sekali sumber energy terbaharukan yang bisa dimanfaatkan untuk menggantikan minyak bumi seperti panas bumi, matahari, biofuel, angin, dll. Indonesia yang terletak di ring of fire memiliki keuntungan dengan sumber panas bumi yang berlimpah. Sumber energy ini selain dapat diperbarui (kekal) juga lebih ramah lingkungan.
- Nuklir. Semua orang tahu dampak negatif pembangkit listrik tenaga nuklir seperti yang terjadi di Fukushima, Jepang. PLTN memang jarang sekali meledak, namun sekalinya meledak akan menghasilkan efek yang sangat besar. Selain itu limbah dari PLTN juga masih menjadi permasalahan yang cukup besar.
- Batubara, sand tar, dan shale earth oil. Sumber-sumber ini termasuk sumber energy fosil yang paling kotor. Walaupun jumlahnya masih cukup berlimpah, namun efek yang dihasilkan dari penggunaannya melebihi nilai energy yang dihasilkan. Penggunaan sumber-sumber energy ini dapat menunda krisis energy, tapi akan menghasilkan krisis yang lebih besar lagi nantinya. Menurut saya, sumber-sumber ini sebaiknya tidak digunakan.
Kelangkaan energy sangat mungkin terjadi jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan, mungkin sekarangpun sudah terlambat untuk bertindak. Kelangkaan energy yang berakibat pada kenaikan harga energy (minyak bumi, dll) akan mengakibatkan inflasi yang tinggi. Efek dari inflasi ini adalah berkurangnya nilai mata uang, sehingga berinvestasi akan menjadi hal yang tidak menguntungkan karena walaupun secara jumlah uang bertambah nanum secara daya beli berkurang. Ada beberapa cara yang disarankan untuk mengantisipasi inflasi yang tinggi :
- Investasi emas. Emas merupakan salah satu investasi yang tidak mengenal inflasi. Jika inflasi tinggi, harga emas naik melebihi inflasi. Harga minyak bumi naik, harga emas juga naik.
- Investasi di bidang energy atau energy alternative. Energi merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam ekonomi, siapa yang menguasai energi akan dapat bertahan dari krisis lebih baik.