Pupuk Urea dan Pemanasan Global
Hutan
Listrik dari Matahari
- Fotovoltaik. Energi matahari dapat diubah menjadi listrik secara langsung dengan menggunakan fotovoltaik sel, yaitu bahan semikonduktor yang sensitif terhadap sinar matahari. Energi foton dari sinar matahari akan menggerakan elektron dari atom-atom semikonduktor tersebut, gerakan elektron inilah yang disebut listrik. Listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik sel adalah listrik searah (DC). Untuk dapat digunakan oleh rumah tangga yang pada umumnya menggunakan listrik (AC), terlebih dahulu harus melewati inverter. Agar listrik tetap dapat digunakan ketika malam hari atau ketika cuaca mendung maka listrik yang dihasilkan dari fotovoltaik disimpan terlebih dahulu dalam batere. Beberapa kendala dari pengembangan listrik dari fotovoltaik ini adalah masalah bahan semikonduktor dan media penyimapan listrik (batere) yang mahal. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi semikonduktor dan batere, biaya pembangkitan listrik dari matahari menjadi semakin murah. Pembangkitan listrik dengan cara ini dapat dilakukan dengan sekala kecil seperti dirumah tangga atau bahkan skala mikro misalnya untuk charger HP
- Concentrated solar thermal. Sesuai dengan namanya, konversi energi matahari menjadi listrik dilakukan dengan menkonsentrasikan energi panas matahari untuk memanaskan air manjadi uap dan kemudian digunakan untuk menggerakan turbin. Prinsipnya mirip dengan kompor matahari, dimana energi matahari di fokuskan pada satu titik degan menggunakan cermin cekung. Pada fokus titik itulah air atau minyak pemanas akan dipanaskan. Kelebihan teknologi ini adalah tidak diperlukannya bahan semikonduktor yang mahal. Penyimpanan energi dapat dilakukan dalam minyak pemanas. Minyak dipanaskan menggunakan energi matahari yang telah difokuskan kemudian disimpan dalam tangki tertentu. Minyak panas ini yang kemudian akan digunakan untuk memanaskan air menjadi uap. Minyak harus tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga pada waktu malam hari atau pada kondisi mendung, pembangkit listrik masih bisa beroperasi. Kelemahan teknologi ini dibandingkan dengan fotovoltaik adalah tidak bisa dibuat dalam skala kecil atau rumah tangga.
Our Choice
- Karbondioksida. Gas ini menyumbang gas rumah kaca terbesar, sekitar 43% dari efek rumah kaca disebabkan oleh karbondioksida. Gas ini dihasilkan dari proses pembakaran seperti pembangkit energi (PLTU, PLTG, PLTD, dll), kendaraan bermotor, industri, pembakaran hutan, dll. Setiap harinya sekitar 90 juta ton karbon dioksida di emisikan ke atmosfer.
- Metana. Meskipun jumlah emisi metana jauh lebih kecil daripada karbon dioksida tetapi efek rumah kaca yang dihasilkan sekitar 20 kali lebih besar daripada per gram karbondioksida. Gas metana menyumbang sekitar 27% dari efek rumah kaca.
- Partikulat karbon. Karbon ini bukan dalam bentuk gas, tetapi berupa partikel halus dalam atmosfer. Partikulat karbon dihasilkan dari pembakaran biomass di area terbuka seperti pembakaran hutan dan dalam rumah tangga, pembakaran batubara yang tidak sempurna, dll. Partikulat karbon dapat menyebabkan atmosfer menjadi gelap sehingga panas matahari lebih mudah masuk ke bumi dan jika mengendap di salju akan menyebabkan salju berwarna lebih gelap sehingga lebih mudah mencair. Partikulat karbon menyumbang sekitar 12% dari efek rumah kaca.
- Zat-zat lain seperti CFCs, CO, N2O, dll juga turut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca.
Mobil Murah dan "Ramah Lingkungan"
Pemerintah berencana mengeluarkan kebijakan untuk mendorong pengembangan mobil murah dan ramah lingkungan. Dengan berbagai kriteria, salah satunya adalah mobil dibatasi dengan kapasitas 1000 cc dan 1200 cc, kemudian harga jualnya dibawah 90 juta rupiah. Mobil ini nantinya ditargetkan untuk pengendara motor yang ingin beralih ke mobil.
Entah bagaimana cara perhitungan pemerintah tentang “ramah lingkungan”, motor bebek biasa konsumsi bahan bakar nya sekitar 1: 40 (1 liter bahan bakar untuk 40 km) bahkan lebih, sedangkan se irit-iritnya mobil masih di bawah 1:25, bagaimana bisa disebut ramah lingkungan? Sudah pasti semakin banyak bahan bakar di konsumsi per km semakin besar emisi yang dihasilkan.
Semakin banyak orang beralih dari motor ke mobil, maka semakin tidak effisien penggunaan bahan bakar. Sedangkan dengan kondisi sekarang saja, Jakarta sudah dinobatkan sebagai salah kota dengan polusi udara yang buruk, bagaimana jika nanti mobil-mobil murah membanjiri Jakarta. Belum lagi dengan kondisi yang sekarang saja, Indonesia sudah harus jadi net importer minyak bumi, bagaimana jika nanti tiba-tiba kebutuhan minyak meningkat?
Saya semakin yakin bahwa sebenarnya pemerintah tidak pernah berniat untuk memperbaiki/menjaga lingkungan. Kata-kata “Ramah lingkungan” hanyalah sloga belaka yang dipakai hanya sebagai kata-kata promosi saja, tidak lebih. Kita harus lebih berhati-hati terhadap semua label “Ramah lingkungan” karena banyak orang memanfaatkan label itu untuk kepentingan tertentu.
Beberapa hal yang harusnya dilakukan pemerintah (menurut saya):
- Menaikkan harga premium agar pemilik mobil manjadi aware dengan konsumsi bahan bakarnya. Dengan sendirinya mobil-mobil boros bahan bakar tidak akan laku dan mobil-mobil tua yang boros bahan bakar otomatis akan tersingkirkan
- Membangun sarana & pra sarana kendaraan angkutan massal yang bagus
- Melakukan pembatasan emisi kendaraan dengan tegas
Memang dengan begini, sector otomotif akan agak tergerus, tapi toh sector otomotif bukan benar-benar menjadi kebutuhan pokok rakyat, dan juga Indonesia juga sekedar menjadi konsumen bagi industry otomotif, dengan Jepang, Eropa, dan Amerika yang akan mengeruk keuntungannya.
Mobil murah dan “Ramah Lingkungan” ini sebaiknya di review lagi lebih dalam..
Bahaya Merokok
Safety talks on 21 August 2010
Mengapa Rokok berbahaya bagi kesehatan:
- Rokok mengandung lebih dari 200 jenis racun, diantaranya adalah tar / asphalt yang merupakan gabungan dari berbagai hydrocarbon yang dapat menempel di paru-paru dan bersifat karsinogen (penyebab kanker), Nikotin yang memberikan efek tenang dan dapat menyebabkan kecanduan, carbonmonoxide yang dapat mengganggu suplai oksigen kedalam tubuh kita, hydrogen cyanide: bahan kimia paling beracun, pada perang dunia II hydrogen cyanide ini digunakan untuk pembunuhan masal oleh tentara Jerman.
- Asap sampingan rokok mengandung lebih banyak lagi bahan kimia berbahaya, itulah sebab selain membunuh diri sediri perokok juga membunuh orang disekitarnya.
- Perokok mempunyai peluang 14x lebih tinggi terkena kanker paru-paru, 2x kanker prostat, dan 2x penyakit jantung dibandingkan bukan perokok
- Yang paling penting untuk laki-laki adalah merokok dapat menyebabkan impotensi
Bagaimana cara berhenti merokok:
- Yakinkan diri bahwa berhenti merokok akan membuat kualitas hidup lebih baik dan akan lebih cepat mati jika terus merokok.
- Buang jauh-jauh semua barang yang berhubungan dengan rokok seperti lighter, asbak, dll
- Kurangi sedikit demi sedikit frekuensi merokok, puasa boleh jadi cara untuk mengurangi rokok
- Perbanyak olahraga dan banyak minum air untuk melupakan rokok dan mengeluarkan racun dari kebiasaan merokok
Breathe healthily, live happily
Energy [R]evolution II
Mengapa Batubara, bukankah kita punya matahari?
Indonesia secara posisi sudah sangat strategis, berada di jalur katulistiwa memastikan bahwa Indonesia merupakan Negara dengan intensitas matahari yang tinggi. Hampir sepanjang tahun, sinar matahari dapat dinikmati. Anugrah ini sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi yang tidak pernah habis, tapi justru tidak dikembangkan.
Total energi matahari yang diterima bumi adalah 3.850.000 EJ (Exa Joule = 10 e 18 Joule) per tahun. Sedangkan total energi primer yang digunakan oleh manusia hanya 487 EJ (sekitar 1 per 10000 dari total energi matahari yang diterima bumi). Ini berarti, seluruh energi yang dibutuhkan manusia dapat dicukupi oleh energi matahari dengan mengkonversinya menjadi tenaga listrik.Saat ini hanya sedikit sekali pembangkit listrik tenaga matahari yang telah beropeasi.
Salah satu kesulitan yang ada adalah masih cukup rendahnya effisiensi dan perlunya penyimpan energi dalah jumlah besar karena listrik tenaga matahari hanya bisa diproduksi pada siang hari, sementara sebagian besar penggunaannya dimalam hari. Selain itu perlu dipikirkan jika sedang musim penghujan atau musim dingin. namun melihat potensinya yang sangat besar, untuk menjaga atmosfer bumi tetap bersih, dan menghindari kerusakan alam yang lebih besar maka pengembangan energi matahari ini sebagai sumber energi utama sangat layak untuk dilakukan, jangan sampai menunggu matahari kehilangan sinarnya baru kita berfikir untuk menggunakan energinya.
Reaktor Biodiesel Skala Rumah Tangga
Pembuatan biodiesel skala rumah tangga (untuk pemakaian sendiri) sangat banyak dilakukan oleh masyarakat biodiesel di luar-luar negeri. Peralatan yang diperlukan sebenarnya sangat sederhana dan mudah di temui di sekitar kita. Berikut ini contoh penggunaan barang-barang bekas untuk membuat biodisel skala 100 liter per batch (bahan-bahan yang digunakan dapat dilihat pada postingan sebelumnya).
Untuk mereaksikan minyak nabati dan metanol dapat digunakan sebuah reaktor sederhana yang terbuat dari drum bekas (volume sekitar 150 liter). Sebagai tempat pencampuran katalis dengan metanol digunakan jerigen (volume sekitar 25 liter). Drum dengan jerigen ini dihubungkan dengan pipa atau selang untuk menjaga tekanan di dalam drum dan jerigen sama.
Campuran ini akan diumpankan kedalam reaktor secara bertahap selama proses reaksi berlangsung atau sekitar 60 menit, untuk itu perlu dipasang valve untuk mengatur flow metanol. Reaktor ini dilengkapi dengan pompa dengan kapasitas minimum 100 liter per menit. Pompa ini selain berfungsi sebagai alat transfer juga sebagai pengaduk. Untuk mendapatkan temperatur reaksi yang optimal, reaktor ini dapat dilengkapi dengan pemanas listrik atau minyak nabati yang akan direaksikan dipanaskan terlebih dahulu dengan menggunakan tungku api atau pemanas matahari hingga 65 oC (temperatur optimum untuk reaksi ini adalah 60 oC).
Biodiesel yang masih tersisa di tangki (sekitar 20 cm) disimpan ditempat lain. Biodiesel ini akan dimasukkan ke reaktor pada proses berikutnya, yaitu pada proses pengendapan setelah reaksi biodisel yang kedua selesai. Fasa gliserin yang diperoleh (sekitar 10% dari volume biodisel yang diperoleh) dapat dibakar untuk proses pemanasan minyak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat biodisel:
- metanol merupakan bahan yang mempunyai titik didih rendah (mudah menguap) sangat mudah terbakar dan beracun, sehingga penanganannya harus hati-hati. Untuk itu tidak boleh ada kebocoran pada sistem reaktor ini.
- Katalis (KOH atau NaOH) merupakan bahan kimia berbahaya dan korosif
- Pembakaran gliserin harus pada temperatur tinggi (api menyala) karena dapat menimbulkan gas beracun jika dibakar pada temperatur rendah.
Homemade Biodiesel
Sebagai salah satu alternative bahan bakar pengganti solar, biodiesel sebenarnya dapat dengan mudah dibuat dalam skala rumah tangga untuk digunakan sendiri. Bahan baku yang paling realistis untuk digunakan adalah minyak goreng bekas yang masih memiliki kualitas cukup bagus seperti dari rumah makan cepat saji atau industri makanan. Permasalahan yang sering muncul adalah karena minyak goreng bekas tersebut seringkali masih dipergunakan untuk memasak walaupun dari segi kesehatan tidak diperbolehkan.
Langkah pertama yang dilakukan untuk membuat biodiesel adalah persiapan bahan baku (minyak goreng bekas) yang bertujuan untuk menghilangkan air. Persiapan ini dilakukan dengan memanaskan minyak diatas api hingga lebih dari 100 oC. Kadar air dalam minyak dapat diketahui dari gelembung-gelembung yang muncul pada saat minyak dipanasi. Jika sudah tidak ada gelembung pada minyak yang dipanasi, maka kadar air dalam minyak kira-kira lebih rendah dari 0.5%, sesuai dengan persyaratan.
Selanjutnya adalah mereaksikan minyak dengan methanol dengan katalis KOH selama 2 jam. Reaksi ini dapat berlangsung dengan baik pada suhu 60 oC, namun pada suhu tersebut methanol sudah menguap. Pada skala pabrik, biasanya ditambahkan methanol kondensor untuk mengkondensasikan methanol yang menguap. Untuk skala rumah tangga, pemasangan kondensor akan menyusahkan sehingga reaksi tidak perlu dilakukan pada suhu tinggi, cukup dijaga pada suhu sekitar 40-50 derajat C. pada kondisi ini reaksi berjalan lebih lambat sehingga diperlukan waktu hingga 2 jam (pada suhu 60 derajat C cukup 30 menit).
Produk dari reaksi ini adalah biodiesel dan gliserin yang dapat dipisahkan dengan pengendapan. Glierin akan mengendap dalam waktu 30-60 menit, namun untuk mendapatkan pengendapan yang bagus, hasil reaksi ini dapat didiamkan hingga 1 hari. Setelah 1 hari akan didapatkan cairan jernih di bagian atas (biodiesel) yang dapat langsung dipaka walaupun idealnya biodiesel ini harus dicuci terlebih dahulu dan kemudian dikeringkan. Gliserin dapat dicampurkan dengan serbuk gerjajian, kertas, atau sekam padi untuk dijadikan sebagai bahan bakar tungku (untuk memanaskan minyak seperti pada langkah pertama). Namun perlu diperhatikan, pembakaran gliserin pada suhu rendah bisa menghasilkan acrolein (racun) sehingga nyala api pembakaran harus cukup besar.
Berikut ini bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat biodiesel beserja jumlah biodiesel yang dihasilkan:
- Minyak (minyak goreng bekas, minyak jarak pagar, dll) 100 liter
- Methanol 20 liter
- KOH 0.9 kg
- Biodiesel 90-100 liter
- Fasa gliserin 10-25 liter
Energi Alternatif : Arang
Banyak yang menganggap remeh potensi-potensi energi alternative seperti arang misalnya. Mendengar kata ’arang’, orang akan langsung teringat pada masa lalu sebelum populernya minyak bumi. Pemakaian kembali sumber-sumber energi yang terlupakan di cap sebagai kemunduran bagi beberapa orang, padahal pada kenyataannya kejayaan minyak bumi sudah usai. Tingginya tingkat pencemaran udara dan juga mulai habisnya sumber-sumber minyak di tempat ’mudah’ memicu munculnya energi-energi alternatif.
Arang dapat dibuat dari berbagai bahan (yang selama ini tidak terpakai) yang mengandung unsur karbon seperti serbuk gergajian kayu, sekam padi, batang padi kering, rumput kering, ranting, pohon, kertas, dll. Pada dasarnya hampir semua bahan organik mengandung karbon. Bahan-bahan tersebut dibakar dalam oksigen terbatas untuk menghasilkan karbon, energi, dan CO2. Berikut langkah-langkah pembuatan briket arang yang dapat diaplikasikan di skala rumah tangga :
- Penyiapan bahan baku seperti yang tersebut diatas
- Media yang digunakan berupa drum yang di lubangi kecil-kecil (dengan paku atau bor besi) di bagian bawahnya dengan jarak 1 x 1 cm, dan pada bagian tengah drum dipasang beberpa pipa (ukuran sekitar 2 in) yang dilubangi kecil-kecil di semua sisinya sebagai tempat keluar asap.
- Pengarangan dilakukan dengan memasukkan bahan baku ke dalam drum. Sebagian bahan baku dapat digunakan sebagai bahan bakar. Api dinyalakan lewat bagian bawah drum yang berlubang. Proses ini dilakukan hingga semua bahan menjadi arang, untuk 100 kg bahan diperlukan sekitar 8 jam.
- Arang yang sudah jadi kemudian dihaluskan dan disaring.
- Serbuk arang dicampur dengan perekat kemudian di cetak dengan pengepresan. Bahan perekat yang digunakan berupa lem yang dibuat dari tepung kanji.
- Hasil cetakan (briket) kemudian dikeringkan dengan cara dijemur
- Briket yang sudah jadi kemudian dicelupkan kedalam bahan penyala agar lebih mudah terbakar. Bahan penyala yang digunakan dapat berupa spiritus, oli bekas, minyak jarak, dll.
Composting
Salah satu permasalahan di daerah perkotaan adalah menumpuknya sampah-sampah rumah tangga. Selama ini sampah hanya dibuang ke tempat penampungan akhir dan hanya ditumpuk saja tanpa ada pengolahan lebih lanjut. Lama-kelamaan tempat penampungan sampah akan penuh dan diperlukan tempat lain lagi untuk menampung sampah, padahal lahan kosong juga menjadi kendala diperkotaan besar.
Salah satu cara yang paling efektif untuk mengelola sampah adalah mengurangi dari sumbernya (source reduction). Untuk sampah perkotaan, sumber utamanya adalah dari rumah tangga. Selama ini tidak ada pembatasan jumlah sampah maksimum yang boleh dibuang oleh tiap-tiap rumah tangga sehingga kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah atau membeli barang kebutuhan yang tidak menyisakan sampah sangat kecil. Salah satu metode sederhana pengelolaan sampah (organik) adalah dengan cara composting. Berikut tata cara pengomposan dengan metode aerasi yang dapat diaplikasikan di rumah (diambil dari ‘Pengelolaan Sampah Rumah Tangga’, Pustaka Rumah)
- Pemilahan antara sampah organik dengan non-organik
- Sampah dicacah dengan ukuran sekitar 1 cm. Sampah yang digunakan sebaiknya campuran antara sampah daun (sumber N) dan ranting / kayu / serbuk gergaji (sumber C)
- Penyiapan media (tempat pengkomposan) yang berupa drum plastik yang dilubangi (diameter 0,5 cm) di seluruh dindingnya untuk memudahkan sirkulasi udara.
- Masukkan styrofoam yang dipotong-potong kedalam media hingga kira-kira ketinggian 5 cm, kemudian masukkan karton / karpet berlubang menutupi lapisan styrofoam. Hal ini diperlukan untuk memudahkan aliran udara dan juga menjaga kelembaban.
- Masukkan kompos yang sudah jadi (sebagai inisiator) dan sampah organik, kemudian aduk hingga merata.
- Sampah yang dihasilkan tiap hari dapat dimasukkan hingga media penuh
- Setelah penuh, diamkan selama 4-6 minggu sampai kompos terbentuk. Setiap seminggu sekali sebaiknya sampah diaduk untuk menjaga homogenitasnya.
- Kompos yang sudah jadi berbau seperti tanah, berwarna coklat kehitaman, dan bentuknya sudah hancur
- Jika kompos masih basah dan lengket, maka perlu di angin-anginkan di tempat yang teduh
Algae, power for future
Salah satu kelemahan pengembangan biodiesel ini adalah dibutuhkannya lahan yang cukup luas dan juga peruntukannya yang berbenturan dengan pangan. Kondisi ini menyebabkan naiknya harga bahan makanan, terutama yang berbahan baku minyak nabati. Disamping itu muncul juga pertanyaan 'seberapa hijaukah biofuel ini?'. Ini terkait dengan penggunaan pupuk yang juga berbahan dasar fosil, energi untuk pengangkutan material, energi pengolahan biofuel, dan energi untuk distribusi. Jangan-jangan hasilnya negatif.
Alternatif lain datang melalui alga. Alga memmunyai kemampuan untuk menyerap energi matahari untuk berfotositesis lebih besar daripada tumbuhan lain, sehingga produk yang dihasilkan juga lebih banyak. Pada kondisi ideal, alga (jenis tertentu) mampu menghasilkan biomass sebesar 180 ton per ha per tahun dengan kadar minyak mencapai 40% (72 ton per ha per tahun, bandingkan dengan sawit yang hanya 6 ton per ha per tahun). Keunggulan lainnya adalah alga hidup di perairan sehingga memungkinkan untuk dikembangkan dilaut, bukankah luas lautan lebih besar daripada daratan? Minyak ini dapat diambil dengan cara pengepresan atau ekstraksi dengan palarut untuk kemudian di reaksikan menjadi biodiesel.
Sekenario lain yang bisa dikembangkan adalah dengan membiakkan alga dengan memanfaatkan sumber CO2 untuk fotosistesis dari gas buang industri. Dengan begitu, selain menghasilkan energi juga mengurangi polutan berupa CO2 diudara.
I believe in Algae..
Sumber bacaan tentang algae ini dapat ditemukan di www.energybullletin.net, atau search di google untuk hasil yang lebih luas..
Hybrid
Beberapa media mengungkap bahwa seorang bernama Joko Sutrisno dari Yogyakarta mengklaim telah menciptakan "Hydrogen Generator" yang dapat diaplikasikan dikendaraan bermotor. Alat ini berprinsip pada reaksi elektrolisis air. Bukan tidak mungkin memang mengaplikasikan elektrolisis air pada kendaraan bermotor, namun jumlah air yang diperlukan cukup besar, untuk sejumlah hidrogen setara dengan 1 liter premium diperlukan air sebanyak 4.2 liter.
High Temperature Electrolysis (HTE)
Elektrolisis dengan temperatur tinggi lebih efektif daripada elektrolisis pada temperatur kamar, seperti yang dijelaskan oleh wikipedia. Intinya adalah, bahwa pada temperatur 100 oC energi listrik yang diperlukan untuk memproduksi 1 kg H2 (141.86 MJ) adalah 350 MJ (effisiensi 41%), sedangkan pada 850 oC, energi yang diperlukan hanya 225 MJ (effisiensi 64%).
Dilihat dari nilai effisiensinya, bahkan pada temperatur tinggi pun, elektrolisis air ini memerlukan lebih banyak energi daripada yang dihasilkan. Hal ini yang menyebebkan elektrolisis air ini tidak efektif jika digunakan sendiri. Namun, jika energi (listrik maupun panas) yang dipakai adalah sisa/buangan sering disebut energy kinetic recovery atau regenerative brake maka elektrolisis air ini bisa menjadi peluang untuk menaikkan effisiensi bahan bakar pada kendaraan bermotor. Hal inilah yang menurut penulis dimanfaatkan oleh Joko Sutrisno, yaitu dengan memanfaatkan listrik dari battery kendaraan (dan seharusnya panas buang kendaraan bermotor juga bisa dimanfaatkan) untuk menghasilkan hidrogen.
Reaksi elektrolisis hanya memerlukan 1.23 volt, sedangkan battery kendaraan rata-rata memiliki 12 volt. Jika arus yang dipakai adalah 1 ampere, maka hidrogen yang diproduksi adalah 0.045 g/s atau 164 g/jam atau setara dengan sekitar 0.7 liter premium per jam nya. Dengan jumlah ini, maka alternatif hybrid ini layak untuk dikembangkan.
Blue Energy
Salah satu nya adalah blue energy. Pada awalnya definisi blue energy adalah energi yang didapat dari laut. Ada 2 prinsip yang digunakan. Air laut mengandung garam (NaCl) yang dengan membran tertentu dapat dipisahkan antara Na+ dan Cl-, adanya perbedaan muatan ini dapat menghasilkan energi listrik lemah (yang jika dibuat dalam skala besar akan menjadi besar juga). Cara kedua adalah berprinsip pada perbedaan tekanan osmosis antara air garam (air laut) dengan air tawar, adanya perbedaan tekanan osmosis ini mengakibatkan adanya perbedaan elevasi, dari perbedaan tersebut kemudian digunakan untuk memutar kincir air kecil dan menghasilkan listrik.
Di Indonesia, istilah blue energy muncul ketika konferensi tentang pemanasan global di adakan di Bali. Seorang peneliti mengklaim mampu membuat bahan bakar setara dengan bensin, minyak tanah, dan solar dengan substitusi hidrogen kedalam rantai karbon tak jenuh dengan biaya produksi yang lebih murah daripada bahan bakar dari minyak bumi. Temuan ini masih seperti misteri, sampai sekarang belum ada kejelasan tentang prinsip dan proses pembuatannya. Secara teori, memang bisa saja membuat bensin, minyak tanah ataupun solar dengan substitusi hidrogen ke dalam rantai karbon tak jenuh. Yang jadi permasalahan sekarang adalah dari mana sumber rantai karbon tak jenuh dan hidrogennya. Teknologi yang ada sekarang ini untuk mendapatkan hidrogen adalah dengan steam reforming, tetapi cara ini memerlukan bahan baku lain yaitu gas alam. Jika memang ada cara yang lebih murah untuk mendapatkan hidrogen dari air (atau air laut) tentu itu akan menjawab masalah sumber hidrogen. Namun itu masih belum cukup, masih ada permasalahan tentang sumber "rantai karbon tak jenuh". Sumber karbon cukup banyak tersedia dalam udara, namun sampai saat ini hanya tanaman yang terbukti mampu mengolah karbon diudara menjadi karbohidrat. Karbon dalam bentuk batubara memang bisa dijadikan "rantai karbon tak jenuh" dengan katalis tertentu, namun hal ini sampai sekarang masih menjadi proses yang mahal. Sampai sekarang, teknologi "blue energy" ini masih belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, energi misterius.
Yang lebih tidak masuk akal lagi adalah klaim bahwa ada yang bisa menciptakan energi dengan gratis, free energy. Cerita-cerita mengenai free energy ini memang sudah banyak beredar di negara-nagara barat, ada yang dari laut, dari bumi, dll. Jika memang free energy ada, tentunya sekarang ini energi akan semakin murah bukannya semakin mahal seperti sekarang ini.
Free energy lebih dekat ke hoax daripada suatu harapan. Energi tidak dapat di ciptakan, hanya bisa dikonversi ataukah prinsip termodinamika ini sudah uzur...
(Masih) Sekitar BBM
Kejadian serupa terjadi hampir di seluruh negeri ini. Mahasiswa berdemo menuntut dibatalkannya pengurangan subsidi BBM karena presidennya pernah berjanji tidak akan menaikkan harga BBM. Terbukti bahwa pendidikan di Indonesia tidak berjalan sebagaimana seharusnya, lihat saja bagaimana seorang yang sudah bergelar mahasiswa masih saja bersikap layaknya anak kecil, yang hanya mau tau bahwa keinginannya harus terpenuhi tanpa berfikir lebih panjang. Ah, kita sudah terlanjur kecanduan rupanya, kelamaan menikmati nikmatnya subsidi BBM.
Ingatkah bahwa lab-lab penelitian kosong ketika mahasiswa berdemo? lalu bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi kita bisa menyusul negara-negara lain kalau mahasiswanya hanya memikirkan bagaimana caranya merengek-rengek ke pemerintah supaya permintaannya dipenuhi. Bukannya sibuk mencari solusi bagaimana mendapatkan energy alternatif menggantikan BBM yang melambung tinggi, bukannya memikirkan teknologi yang lebih efisien sehingga lebih hemat energy, tapi malah makin membebani rakyat kecil dengan merusak fasilitas umum, mengotori jalanan, membakar ban bekas untuk manambah parahnya polusi udara di ibu kota, Ah, namanya juga anak-anak..
BBM Naik, So What..?
Sungguh negara ini belum merdeka, bukan karena "nyari BBM aja kok harus antri panjang", tapi karena pikiran rakyatnya yang masih pendek, BBM naik semua ingin ambil keuntungan dengan jadi penimbun, sungguh bukan cerminan bangsa yang dewasa di usianya yang lebih dari setengah abad. Jangan heran kalau pemimpinnya pun juga masih kanak-kanak, berjanji tidak menaikan harga BBM hanya untuk menaikkan popularitas, sungguh bukan tindakan yang terpuji, menipu rakyat kecil hanya untuk sebuah kekuasaan. Adalah suatu tindakan yang bodoh dan tidak bertanggung jawab dengan berjanji tidak akan menaikkan harga BBM, tren kenaikan harga minyak menunjukkan kurva naik, tidak mungkin harga BBM tidak naik kecuali rela negara ini bangkrut.
Kaum terpelajarnya bergerak cepat dengan berdemo menolak kenaikan harga BBM dengan alasan membela rakyat kecil. Yang jadi pertanyaan adalah rakyat kecil mana yang dibela? rakyat kecil yang naik BMW atau Mercedes seri terbaru itu? masyarakat yang tiap harinya memacetkan Jakarta dengan mobil-mobil mewah itu?atau rakyat berdasi yang bepergian dengan Garuda?. Apa iya mahasiswa berdemo atas nama rakyat? apakah bukan atas nama karir politik yang menunggu setelah sukses berdemo? Sudah banyak contoh yang tidak perlu disebutkan tentang bagaimana seorang mahasiswa yang dulunya aktif berdemo menentang pemerintah kemudian menjadi politikus kotor.
Membaca hasil polling di detikcom, yang walaupun tidak mencerminkan pendapat seluruh rakyat Indonesia, tetapi setidaknya dari 1200an pembaca detikcom (hingga 24 Mei 2008), lebih dari 60% nya menganggap demo kenaikan BBM itu tudak sesuai dengan asrirasi rakyat. Nah lo..
BBM naik, itu memang suatu keharusan. Subsidi BBM adalah blunder bawaan dari pemerintah terdahulu yang hanya ingin melanggengkan kekuasaan dengan memberikan obat bius kepada rakyat kecil hanya untuk membuat mereka merasa nyaman sementara dan sekarang rakyat kecanduan. Membunuh dengan perlahan sehingga tidak ada yang merasa bahwa pemerintah bergerak untuk membunuh kita dengan mensubsidi BBM. Persis seperti obat bius, subsidi BBM juga menimbulkan rasa malas ketika sedang tidak memakai obat. Dan sekarang kecanduan subsidi BBM itu sudah terlalu akut sehingga perlu waktu yang lama untuk menyembuhkannya.
Memang akan terasa berat hidup tanpa subsidi BBM, tapi jika rasa berat itu dilatih selama lebih dari 50 tahun tentu sekarang ini rakyat akan mandiri dan kuat. Subsidi BBM sudah membius dan melemahkan otot-otot rakyat untuk bekerja lebih giat, melemahkan otak-otak kaum terpelajar untuk berfikir lebih keras mengantisipasi mahalnya harga energy. Lihat bagaimana kita membiarkan begitu saja energy matarahi tanpa berusaha mengkonversinya menjadi listrik yang efektif, lihat bagaimana kita membiarkan energy panas bumi yang begitu melimpah. Kita punya banyak sumber energy, so mengapa harus begitu tergantung pada BBM.
BBM naik, so what..? Hanya berdiam diri menerima nasib, itu apatis namanya; ikut berdemo menolak kenaikan BBM sampai titik darah penghabisan, ah jangan itu anarkis. Keluar dari tempurung, lihat ada apa di kebun kita, apakah ada ubi-ubian disitu? fermentasikan dan jadilah super premium; apakah ada jarak pagar disitu? peras minyaknya jadikan solar; apakah terasa semilir angin sejuk? buat untuk memutar baling-baling dan hubungkan dengan dinamo untuk menghasilkan listrik; apakah sinar matahari masih terik? letakkan panel surya dan jadilah listrik; apakah terliat ada air mengalir? ah, itu kan sumber listrik. Begitu banyaknya sumber energy di sekitar kita, tapi masih saja linglung ketika harga BBM dinaikkan. Bangkit saudaraku, berfikir, lawan ketercanduan "obat bius" ini, merdeka..
Jalan Kita Masih Panjang
Sudah banyak Biodiesel ataupun Bioethanol di produksi, berarti sudah banyak juga minyak bumi tergantikan (walaupun secara persentasenya masih kecil). Tetapi apakah dengan ini tujuan tercapai? Belum, jalan masih panjang.
Bioethanol belum berhasil dikembangkan jika bahan baku yang digunakan masih berebut dengan pangan. Begitupun Biodiesel. Ethanol diproduksi dari tebu ataupun pati yang semuanya adalah bahan pangan. Banyak orang kelaparan karena berebut dengan produsen biofuel. Lihat bagaimana rakyat Indonesia yang notabene adalah Negara penghasil minyak sawit terbesar tetapi tidak bisa mengantisipasi lonjakan permintaan bahan baku Biodiesel sehingga harga minyak sawit, yang juga digunakan sebagai bahan baku minyak goreng, naik dan segera saja minyak goring menjadi barang mewah. Bioethanol belum banyak diproduksi tetapi akankah berakhir sama? Sangat mungkin. Apakah ini berarti biofuel akan tamat? Tunggu dulu, ini baru permulaan, jalan masih panjang.
Pengembangan selanjutnya, ethanol akan diproduksi dari ampas singkong, bonggol jagung, kulit beras, serbuk gergajian kayu, rumput, dll yang selama ini masih dianggap sampah. Biodiesel akan mendapat pasokan minyak dari ekstraksi alga yang fotosintesisnya menggunakan CO2 dari cerobong asap pabrik. Tidak perlu menebang hutan lagi untuk mendapatkan minyak. Lingkungan bersih, pangan aman, dan energi tercukupi.
Biofuel : Sehijau Itukah?
Di Indonesia, biofuel (terutama biodiesel dan bioethanol) dibuat dari crude palm oil (CPO) untuk biodiesel dan singkong atau tebu untuk bioethanol. Baik CPO, singkong, maupun tebu merupakan tanaman perkebunan dan sering kali perkebunan dibuka dari konversi hutan. Konversi hutan menjadi perkebunan ini yang kemudian menjadikan sifat ramah lingkungan biofuel dipertanyakan. Masih ingat bagaimana setiap tahunnya negara-negara tetangga kita complain tentang kabut asap yang kita ekspor? itu hanya salah satu efek jangka pendek dari konversi hutan ke perkebunan. Efek jangka panjanganya tentu lebih berbahaya, global warming dan climate change.
Hutan merupakan salah satu penyeimbang kadar CO2 di atmosfer dan menghasilkan O2 yang kita butuhkan. Itulah mengapa hutan disebut sebagai paru-paru bumi. Apa jadinya jika hutan yang merupakan ekosistem yang kompleks dimana didalamnya terdapat bermacam-macam flora dan fauna dikonversi menjadi perkebunan yang hanya terdapat satu jenis tanaman. Tentunya akan terjadi ketidakseimbangan.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana solusinya? Alasan pemakaian lahan hutan untuk menjadi tanah perkebunan adalah karena kesuburannya. Tanah yang ditumbuhi banyak tanaman tentu lebih subur dibanding dengan tanah tandus dan gersang yang tidak ada tanamannya. Hal ini menjadikan para pengembang lebih suka membuka hutan untuk perkebunan daripada mengembangkan daerah-daerah kritis untuk menjadi perkebunan. Yang dibutuhkan disini adalah regulasi yang tepat, hakim yang jujur, wasit yang fair, dan pengawasan yang ketat untuk menentukan daerah-daerah yang boleh dikonversi menjadi perkebunan. Hutan adalah daerah yang highly prohibited untuk dijadikan perkebunan.
Lahan-lahan kritis yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lahan kritis yang berasal dari penebangan liar harus dikembalikan menjadi hutan, dan lahan kritis yang memang bukan berasal dari hutan dapat dikonversi menjadi hutan, mahal memang namun bukan berarti tidak bisa. Ditanami dengan tumbuhan perintis, dicampur dengan kompos, dengan penambahan cacing tanah untuk penggembur, dll tentunya akan bisa mengubah tanah kritis menjadi subur, yang diperlukan hanya kesabaran, dan memang modal yang diperlukan juga lebih besar.
Hijau tidaknya biofuel tergantung pada kebijakan dan keberanian SBY..
Mendinginkan Ruang dengan Memanaskan Bumi?
Mengatasi kondisi alam yang "tidak sesuai", orang banyak menggunakan pengatur suru ruangan (Air Conditioner) untuk membuat ruangan menjadi lebih nyaman. Memang sekilas ini adalah cara yang paling mudah untuk kenyamanan. Tapi sadarkah kita bahwa dengan menggunakan AC untuk mendinginkan ruangan, kita telah berperan dalam memanaskan bumi. AC memerlukan fluida yang dapat menguap pada suhu rendah, kebanyakan masih berupa CFC (sering disebut freon). Freon adalah zat penghancur lapisan ozon (lapisan pelindung bumi yang terbuat dari tiga atom oksigen yang saling berikatan lemah) yang paling efektif. Freon menjadi katalis dalam proses penguraian ozon menjadi oksigen, akibatnya, lapisan ozon akan terkikis dan energi matahari akan dapat dengan mudah sampai di bumi, dan yang terjadi berikutnya adalah naiknya temperatur rata-rata bumi (pemanasan global).
Selain berbahaya karena freonnya, penggunaan AC yang berlebihan juga menyedot banyak energi listrik. Listrik sendiri kebanyakan dibangkitkan dari proses pembakaran batu bara, minyak, ataupun gas, yang tentu saja menghasilkan CO2 yang juga berperan dalam pembentukan efek rumah kaca.
Dari segi kesehatan sendiri, sebenarnya penggunaan AC juga tidak dianjurkan karena udara yang ada di ruangan hanya disirkulasi saja. Memang teknologi yang ada sekarang dapat menghilangkan kotoran, debu, bakteri, bahkan virus yang ada diudara, tetapi udara yang kita hirup dan disirkulasi terus-menerus tentu saja kadar CO2 nya akan meningkat. Tingginya kadar CO2 dapat mempengaruhi kondisi kesehatan.
Menyiasati kondisi iklim tropis dapat dilakukan dengan menanam vegetasi yang cukup di sekitar tempat tinggal dan rancangan bangunan yang sesuai dengan iklim tropik. Bukan dengan memasang AC kapasitas besar yang selain tidak sehat juga merusak lingkungan. Mendinginkan ruang dengan memanaskan bumi?
- Hindari penggunaan AC yang berlebihan. Hindari menggunakan AC hingga temperatur rendah, tetapi jaket/selimut tetap dipakai
- Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan nyaman, pakaian yang gerah akan memaksa kita menekan tombol AC lebih sering
- Gunakan vegetasi disekitar rumah/kantor untuk mengatur temperatur ruangan, sekaligus menyediakan udara segar yang cukup
- Desain rumah/kantor sesuai dengan kondisi iklim tropis. Gunakan atap yang cenderung tinggi dan ventilasi/sirkulasi udara yang bagus untuk membuat suasana menjadi lebih segar.