Sekitar seabad yang lalu, Indonesia pernah menjadi exporter gula terbesar kedua dunia. Hal itu sudah menunjukkan bahwa perindustrian di Indonesia sudah cukup maju pada jaman dulu. Bahkan, ternyata jurusan teknik kimia dimana aku lulus juga tidak lepas dari pengaruh industri gula.
Indonesia memang sudah selayaknya menjadi produsen gula yang besar. Anugrah Tuhan berupa letak geografis yang berada di sekitar katulistiwa adalah tempat yang paling ideal untuk perkebunan tebu karena tebu merupakan tanaman yang paling efektif dalah mengubah energi matahari menjadi karbohidrat (gula). Seharusnya menjadi hal yang aneh/abnormal bila kemudian Indonesia menjadi importer gula.
Industri gula merupakan industri yang sudah matang, dari semua sisi. Industri ini sudah ada sejak jaman Belanda. Kondisi ini justru yang selama ini tidak diperhatikan, oleh pemerintah, dunia pendidikan, maupun orang-orang dari industri gula. Kondisi pabrik gula yang pada umumnya sudah tua dibiarkan terus berjalan dengan tidak efektif.
Gula sebagai salah satu bahan pangan seharusnya terdiri dari bangunan dan peralatan pabrik yang tergolong “food grade”, dimana kondisi pabrik harus bersih, peralatan-peralatannya layak di sebut “food grade”, orang-orang yang bekerjapun juga dalam kondisi bersih. Kondisi yang terjadi dilapangan sungguh sangat berbeda. Lantai, dinding, atap, dan secera keseluruhan kondisi pabrik gula sangat tidak terawat, lantai nya becek, hampir semua peralatnya berkarat, dan banyak sekali sampah-sampah pabrik.
Minimnya perawatan pabrik gula ini sebenarnya tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Gula sebagai bahan pangan tidak boleh mahal harganya, karena itu industri gula tidak mempunyai keutungan yang cukup untuk merawat peralatannya dengan baik, perkebunan tebu tidak mempunyai cukup uang untuk memupuk dan menjaga kualitas tebu dengan baik. Dan akhirnya dengan kondisi yang sudah terlanjur seperti ini pemerintah baru mengeluarkan program “revitalisasi pabrik gula”, setelah kondisinya menjadi sedemikian buruk. Ibarat orang yang sakit, sekarang pabrik gula ini sudah sekarat baru mau di obati.
“Pengobatan” industri gula ini harusnya dilakukan tidak hanya terhadap pabrik dan perkebunan tebu saja, tetapi juga pada dunia pendidikannya, pada nilai keekonomian industri gulanya, dll. Sekarang ini sepertinya sudah tidak banyak lagi ahli-ahli gula, terlihat dari sulitnya mencari buku-buku yang membahas tentang teknologi gula. Di jurusan teknik kimia pun yang dulu dilahirkan dari industri gula, sekarang sudah tidak lagi ada mata kuliah mengenai teknologi gula, para insinyurnya pun tidak banyak yang terjun di industri maupun teknologi gula. Mungkin memang karena nilai ekonomi industri gula ini tidaklah besar.
Walaupun terlambat, semoga masih ada waktu untuk industri ini dalam memperbaiki diri. Masih lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali..
‘Antri’ mungkin menjadi salah satu kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit sekali untuk diterapkan. Budaya antri sepertinya memang belum menjadi budaya kita, mungkin baru bebek saja yang sudah menerapkan budaya antri. Ambil contoh ketika di tol, sudah jelas-jelas rambu-rambu dan bahkan peringatan mengatakan bahwa bahu jalan hanya digunakan untuk berhenti darurat dan dilarang digunakan sebagai jalan reguler, namun tetap saja banyak kendaraan yang melintasinya tanpa merasa bersalah dengan alasan kemacetan. Sebenarnya siapa yang membuat macet jalan tol? Ya mereka yang melewati bahu jalan itu sebenernya. Karena ketika ada kendaraan yang berhenti darurat di bahu jalan maka otomatis kendaraan lain yang lewat dibahu jalan akan mendesak kendaraan yang berada dijalur yang benar sehingga terjadi kemacetan. Nah sialnya lagi, arus kendaraan yang dibelakang (di jalur yang benar) menjadi tersendat dan begitu melihat bahu jalan kosong, segeralah ia memutar kemudi melewati bahu jalan. Efek ini akan terus berulang dan macetpun tak dapat dihindari. Kendaraan yang berhenti di bahu jalan sebenarnya tidak salah, karena memang bahu jalan itu untuk berhenti darurat, yang salah adalah orang yang menggunakan bahu jalan lah yang salah. Yang jadi korban, ya yang benar.
Salah satu faktor penyebab budaya ini belum ‘masuk’ di Indonesia (baca : Jakarta) adalah tingkat pendidikannya (pendidikan tidak selalu sama dengan sekolah, belum tentu orang yang sudah tamat S3 berpendidikan yang baik). Di Indonesia ini kan lebih banyak orang yang menggunakan ego daripada otak. Kalau dalam lelucon dibilang otak orang Indonesia ini masih fresh, belum banyak digunakan, ya memang begitu adanya.
Budaya menghargai orang lain juga masih kurang. Jadi kalau orang lain jadi susah karena ulah kita, ya biarin aja, emang gue pikirin...
Disamping itu memang benar bahwa pemerataan pembangunan masih belum dilakukan, akibatnya penduduk Indonesia sebagian besar ada di Jakarta, konsumsi sumberdaya alam termasuk juga penghasil limbah di Indonesia sebagian besar juga di Jakarta. Dengan melihat kondisi yang sedemikian parahnya, aneh jika pemda masih juga mengijinkan pembangunan gedung-gedung tinggi di Jakarta. Gedung-gedung ini kan tentunya untuk perkantoran, dan perkantoran kan selalu ada karyawannya, dan ini kan berarti penambahan jumlah manusia. Lha wong ngurusin manusia yang sekarang saja sudah ga bisa kok mau nambah lagi, ya kalau ga bisa ngurangin ya jangan nambah urusan....
Kita semua tahu bahwa waktu tidak bisa dihentikan atau dipercepat, semuanya berjalan konstan, dan semua yang sudah terjadi tidak dapat di putar balik lagi. Dari sini kita harusnya sadar bahwa waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin kalau tidak mau ketinggalan.
Sebagai pekerja kantoran dengan rutinitas tiap hari yang bisa dikatakan tidak banyak berubah dan ditambah lagi dengan jarak antara rumah dan kantor yang lumayan jauh, aku harus bisa membagi waktu dengan sebaik mungkin. Setelah di hitung-hitung ternyata aku mendapatkan sebagian besar waktu ku ada di rumah, yaitu sekitar 11.5 jam, yang sebagian besar kugunakan untuk tidur selama 7-8 jam, sisannya untuk bersantai, persiapan ke kantor, dll. Berikutnya adalah waktu di kantor yang sekitar 9 jam dan sisanya diperjalanan sekitar 3.5 jam dari senin sampai jumat. Jadi kalau dilihat, sebenarnya waktu efektif yang paling banyak adalah di kantor. Kalau dibuat grafiknya, waktuku seperti ini:
Dari 47% waktu yang kuhabisin dirumah, 65% nya kugunakan untuk tidur, sisanya untuk bersantai dan persiapan ke kantor. Sehingga grafik pemakaian waktuku seperti ini:
Sementara itu, dari 9 jam waktuku di kantor, 4.5 jam (50%) aku gunakan untuk kerja (sedapat mungkin serius), 2 jam untuk mengerjakan proyek pribadi, 1.5 jam untuk makan siang + sarapan, dan sisanya untuk surfing di dunia maya.
Sebenarnya kalau dihitung-hitung tidak full 8 jam kita kerja dalam sehari (aku berani bertaruh sebagian besar karyawan juga demikian), tapi memang ini bisa fleksibel, jadi kalau pekerjaan lagi peak, tentu saja waktu kerja efektif akan lebih dari 4.5 jam.
Ini hanya terjadi untuk hari kerja saja, sabtu-minggu tentu saja akan berbeda, lebih banyak digunakan untuk jalan-jalan, mengutak-atik rumah atau mobil, dan bersantai.
Ada satu hal lagi yang masih kurang, waktu untuk olah raga, ini seharusnya penting karena kebanyakan orang kantoran hanya duduk statis di depan komputer di sepanjang waktunya di kantor. Untuk yang satu ini aku memanfaatkan jalan kaki sebagai olah raga alternatif. Misalnya, pada saat harus berpindah tempat dari ruang kerja di lantai 3 ke kantin di lantai ground, sebisa mungkin tidak menggunakan lift. Naik tangga 3 lantai sebanyak 3-4 kali sehari mungkin sudah dapat menggantikan olah raga. Begitu pentingnya waktu sehingga harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin atau kita akan menghadapai BOM WAKTU...
KOTA GAZA, KAMIS — Jumlah korban tewas akibat ofensif Israel di Jalur Gaza meningkat menjadi 763, Kamis (8/1), setelah serangan-serangan baru. Puluhan mayat ditemukan selama penghentian sesaat pengeboman Israel, kata beberapa petugas medis.
Begitu tertulis di harian kompas edisi Jumat ,09 Januari 2009 sebagai bukti kekejaman bangsa yahudi. Setelah menginvasi Palestina sejak 1946, wilayah negara palestina makin sempit dari tahun ke tahun dan akhirnya terpecah menjadi dua wilayah (Gaza dan Tepi Barat) seperti sekarang ini. Palestina bukan hanya kehilangan sebagian besar wilayahnya tetapi juga ribuan (mungkin jutaan) warganya.
Bangsa yahudi yang pada awalnya adalah pengungsi dari Eropa setelah perang dunia dua akhirnya malah mendeklarasikan tanah pengungsian menjadi sebuah negara, mengusir warga yang sudah terlebih dulu ada. Bukannya berterima kasih atas tanah tumpangan untuk pengungsian, yahudi malah membalasnya dengan mencaplok sebagian besar wilayah dan membunuhi warga palestina. Warga dunia yang paling mengembor-gemborkan tentang demokrasi dan kemerdekaan (amerika serikat) ternyata justru ada dibalik kolonialisasi dan genosida ini. Bagaimana tidak, bantuan amerika yang mengalir ke israel tidak kurang dari 30 miliar dolar selama 10 tahun, seperti yang diungkapkan obama. Negara yang katanya menjujung tinggi nilai kemanusiaan ternyata justru yang tidak manusiawi.
Bagaimana kita bersikap selanjutnya? karena konfrontasi langsung tentu bukan jalan yang tepat karena musuh mempunyai senjata pemusnah massal yang saat ini paling mutakhir. Jalan yang lebih realistis adalah dengan berjuang/jihat secara ekonomi yaitu dengan boikot. Mengapa saya menyebut ini sebagai jihat juga? karena pada kenyataannya memang tidak mudah untuk tidak membeli produk amerika, diperlukan perjuangan tersendiri untuk melakukannya. Bagaimana tidak, sehari-hari kita tidak bisa lepas dari microsoft windows, KFC, dll. Untuk itu diperlukan tekad yang kuat.
Berikut ini beberapa hal yang akan saya lakukan:
Meng-unistall windows dan semua software asli di laptop dan menggantinya dengan Linux, atau dengan windows/software bajakan, meskipun ini bertentangan dengan himbauan perusahaan tempat saya bekerja.
Berhenti makan di KFC, McD, Pizza Hut, CFC, dll yang mengandung amerika
Berhenti membeli barang kebutuhan sehari-hari seperti sabun, pasta gigi, dll dari produk-produk amerik
Dll, selama masih ada substitusinya. Sejauh ini saya belum menemukan pengganti situs-situs internet seperti google, yahoo, dll.
Adalah tokoh India bernama Gandhi yang melalukan perlawanan pada penjajah Inggris pada waktu itu dengan swadesi yang artinya dengan menggunakan produk dalam negeri atau tidak menggunakan (boikot) produk Inggris pada saat itu.
Satu tim pasukan khusus dari gabungan angkatan darat diterjunkan dalam hutan untuk menyelesaikan satu misi perintisan yang sangat penting untuk membuka jalan bagi pasukan infanteri yang akan menyerang target. Tidak pernah ada keterangan yang jelas tentang musuh apa yang akan dihadapi. Pada saat briefing hanya dijelaskan bahwa tugasnya adalah membuka jalan bagi pasukan infanteri, apapun caranya. Markas besar berjanji akan memberikan dukungan penuh jika memang diperlukan.
Dengan peralatan tempur seadanya karena memang pasukan ini bukanlah pasukan utama untuk menghancurkan musuh, dengan kondisi yang belum diketahui sebelumnya, dan musuh yang bisa ada dimana saja, satu tim pasukan ini diharapkan dapat menyelesaikan misi.
Dalam perjalananya, banyak sekali hambatan yang dihadapi, medan tempur yang masih belum dikenali, musuh dengan senjata lengkap dan intelejen yang canggih, keterbatasan peralatan, dll. Beberapa kali terjadi kontak senjata yang menewaskan beberapa anggota tim, hal ini tentu saja berimbas pada mental anggota yang lain. Menghadapi musuh yang lebih kuat dengan senjata yang seadanya, amunisi yang makin menipis, dan persediaan obat dan makanan yang terbatas.
Melihat kondisi yang makin tidak seimbang, diputuskan untuk meminta dukungan dari markas pusat. Mengingat ini adalah misi yang sangat penting, maka diputuskan untuk mengirimkan bantuan dari segala lini. Amunisi di drop dari pesawat-pesawat pengangkut logistik, bom-bom napalm digunakan dari udara untuk menghalau musuh, dan juga tambahan pasukan reinforcement segera dikirimkan dari markas pusat. Tidak peduli berapa besar materi yang diperlukan, misi ini harus sukses, begitu bunyi perintah langsung dari pimpinan militer tertinggi.
Datangnya bantuan memberikan harapan baru bagi tim pasukan khusus, musuh berkali-kali dapat dipukul mundur dan misi hampir terselesaikan, hanya ada beberapa pos dan satu markas bagian yang perlu dilumpuhkan. Namun, pengiriman bantuan yang begitu banyak membuat kondisi markas tidak stabil. Stock amunisi di gudang mulai menipis, banyaknya pasukan di medan pertempuran juga melemahkan pertahanan markas. Pimpinan tertinggi segera mengeluarkan perintah untuk menghentikan bantuan, termasuk bantuan logistik untuk makanan dan obat-obatan.
Kondisi yang tadinya sudah diatas angin, sekarang menjadi berbalik. Musuh mulai bangkit dan pasukan khusus yang sudah tanpa dukungan mulai kedodoran. Banyak pos yang berhasil direbut kembali oleh musuh. Misi untuk menguasai sisa pos menjadi terhambat. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya supply makanan dan obat-obatan. Banyak anggota tim yang terserang malaria dan terpaksa harus dievakuasi.
Pertahanan makin melemah sementara musuh belum juga habis. Tanpa makanan, obat-obatan, dan sekarang ditambah lagi tanpa amunisi, tim pasukan khusus dihadapkan pada masalah yang cukup rumit, misi belum selesai tapi harus selesai, tetapi dilakukan tanpa dukungan markas besar. Kondisi menjadi sangat kritis, bahkan hanya untuk sekedar bertahan. Berkali-kali pimpinan pasukan khusus mengirimkan sinyal untuk minta bantuan, namun tidak pernah datang. Dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk misi “kecil” ini, markas besar sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan misi atau menarik mundur semua pasukan.
Chinees Was Jika aku seorang chinese, aku tidak akan merambah hutan milik bangsa lain sampai habis hanya untuk menumpuk kekayaan pribadi yang tidak pernah saya nikmati. Begitu banyak harta menumpuk, tetapi saya tidak menikmati enaknya makanan karena semuanya berkolesterol tinggi sedangkan tubuh saya mulai keropos karena kerja berat sepanjang masa muda saya. Tulang-tulang saya mulai keropos karena usia yang sudah renta dan masa muda yang tidak terjaga karena terlalu pelit untuk membeli suplemen berkalsium tinggi, setiap sen yang keluar terasa seperti pemborosan yang tidak berguna.
Jika saya seorang chinese, saya tidak akan memanipulasi jumlah produksi perusahaan saya untuk mengelabuhi petugas pajak. Saya akan membayar pajak sesuai dengan kewajiban saya, tanpa uang suap yang menghancurkan moralitas petugas pajak. CSR terhadap lingkungan sekitar akan menjadi prioritas karena saya hidup bukan di tanah air sendiri, sebagai pendatang yang baik maka saya akan berusaha memakmurkan daerah sekitar saya dan bukan malah menggaji pegawai dengan gaji yang minimum sehingga tidak ada cukup tabungan untuk hidup di hari tua.
Mosleem Was Jika saya mengaku seorang muslim maka saya tidak akan meledakkan sebuah kafe hanya karena saya tidak menyukai seseorang di dalam kafe tersebut. Saya tidak akan meledakkan diri di tengah-tengah saudara saya hanya karena kami berbeda pendapat tentang sesuatu hal.
SBY Was Jika saya seorang SBY, akan saya hukum mati semua penjarah hutan, para pejabat korup, bandar besar narkoba, dan hakim yang tidak adil. Akan saya usir pengusaha chinese yang tidak jujur (dan jika kebanyakan pengusaha memang tidak jujur, maka akan saya pertimbangkan untuk mengusir semua chinese dari Indonesia).
Wakil Rakyat Was Jika saya seorang wakil rakyat, saya tidak akan menuntut uang tunjangan pada saat rakyat masih kelaparan.
EVP Portofolio Was Jika saya seorang EVP Portofolio yang mengatur semua pengeluaran uang perusahaan, saya tidak akan menunda-nunda droping dana untuk akomodasi dan konsumsi karyawan yang dilapangan sehingga meskipun proyek merugi, namun karyawan masih tetap mendapatkan haknya.
“Sebenarnya, benar dan salah tak pernah ada! Yang ada adalah kepentingan! Dimana ada kepentingan, disitu lahir benar dan salah. Dan, benar dan salah sifatnya subjectif sekali. Padahal kalau manusia mau berfikir lebih arif sedikit, kehadiran manusia di jagad semesta ini bukan atas kehendak sendiri, tetapi ada yang berkehendak. Maka yang berkehendak itulah yang punya kepentingan. Jadi, kalau kehendak Gusti diambil alih oleh kawulanya sehingga kawula yang punya kehendak, maka malapetaka besar akan selalu dialami kawulanya. Karena, manusia diperbudak oleh akalnya, yang membuat manusia jadi ketakutan siang dan malam”
“Lalu apa gunanya akal buat kita”
“Agar kita bisa berfikir bahwa akal itu sering memperdaya kita. Benar dan salah jangan dijabarkan dengan akal tetapi dengan ketulusan hati”
“Mengapa para pandhita yang dan pemuka agama yang ‘makan-tidurnya’ adalah kitab suci, doa, dan sembahyang, justru perangai, tindakan, dan ucapannya penuh kebencian dan dendam, tidak mencerminkan ketulusan hati mereka?”
“Karena keyakinan yang mereka percaya itu dilandasi dengan hawa nafsu”. “Dalam hidup ini, banyak yang ingin diketahui orang. Tapi setelah tahu, apakah keinginan tahu orang akan terselesaikan?”
“Bagaimana orang bisa tahu kalau tidak didorong oleh rasa ingin tahu?”
“Mengetahui bukan dari rasa ingin tahu, tapi dari mengamati proses kejadian sendiri tanpa dicemari kepentingan apapun!"
“Tanpa kepentingan, bagaimana orang bisa menemukan kebenaran?”
“Dalam kebenaran tidak terdapat kepentingan. Bila dalam kebenaran dimasukan kepentingan, maka kebenaran itu akan lenyap dengan sendirinya”
“lalu, apa jalannya mencapai kebenaran?”
“Tak ada jalan menuju kebenaran, itu datang sendiri padamu. Kebenaran dapat datang hanya ketika pikiran dan hatimu sedernaha, jernih, dan ada kasih sayang dalam hatimu, bukan bila hatimu dipenuhi dengan hal-hal dari pikiranmu. Bila ada kasih sayang di dalam hatimu, kau tak akan bicara tentang kepercayaan, kau tak akan bicara tentang pembagian kekuasaan atau kekuasaan yang menciptakan pembagian, kau tak perlu mencari perukunan. Maka kau adalah orang yang sederhana tanpa embel-embel.”
“Apakah yang dimaksud, tanpa embel-embel?”
“Kau harus menganggalkan semua rancangan dan angan-angan yang ada dalam pikiranmu dan membiarkan kebenaran datang terwujud. Ini hanya datang saat pikiran tanpa beban, ketika pikiran berhenti mencipta. Kebenaran itu datang tanpa perlu kau undang, berhembus seperti angin dan tanpa diketahui”
Desember tiga tahun lalu, gempa besar yang berujung pada gelombang tsunami telah memporak-porandakan Aceh dan daerah-daerah sekitarnya. Belum selesai Aceh di-recovery dari bencana mematikan itu, gempa besar menguncang Jogja dan sekitarnya, kemudian laut selatan Jawa bagian barat, dan yang baru-baru ini adalah di sekitar Sumatera Barat dan Bangkulu. Rangkaian gempa ini apakah memang murni bancana alam yang terjadi akibat pergeseran dua lempeng bumi? Ataukan ada sebab lain yang mendorong pergeseran ini menjadi lebih agresif?
Lapisan permukaan bumi terdiri dari lempeng-lempeng yang masing-masing saling bergerak dengan sangat pelan (sekitar 5 cm/tahun). Dari hasil pergerakan inilah muncul gunung yang menjulang tinggi atau dataran rendah yang luas. Jika kemudian pergerakan ini terjadi dengan ‘agresif’ apakah itu suatu hal yang normal dan harus diterima apa adanya tanpa koreksi ataukah merupakan suatu pertanda bahwa bumi makin rapuh dan menuntut ‘perawatan’ intensif setalah berabad-abad dirusak?
Belum ada data ilmiah yang mengatakan, tetapi aku berpendapat gerakan agresif lempeng bumi ini berkaitan dengan kegiatan di atas permukaan bumi. Naiknya temperatur rata-rata bumi mendorong mencairnya salju di kutub, perubahan aliran air laut, perubahan cuaca bumi, dll. Akibat perubahan-perubahan yang relatif cepat ini berakibat pada ketidakseimbangan kondisi didalam bumi yang akhirnya terlihat dari gerakan-gerakan lempeng bumi yang makin agresif. Apakah bumi akan hancur lama-kelamaan akibat pergerakan agresif ini? Bisa jadi..
Bumi terdiri dari inti yang bertemperatur tinggi, dibungkus oleh lapisan tipis yang berupa lempeng-lempeng yang bergerak dan mudah patah. Kondisi yang tidak seimbang akan berdampak buruk pada kondisi lapisan kulit bumi. Kita hidup diatas lapisan yang sangat tipis yang sewaktu-waktu bisa rusak. Kita ibarat hidup di atas bom waktu yang sangat besar, tinggal usaha kita untuk menjaga lapisan pecah belah bumi dapat bertahan lama atau membiarkannya rusak lebih cepat..
Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru, "Indonesia bersatu."
Hiduplah tanahku, Hiduplah negriku, Bangsaku, Rakyatku, semuanya. Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannyaUntuk Indonesia Raya.
Refrein: Indonesia Raya,Merdeka, Merdeka Tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya,Merdeka, Merdeka Hiduplah Indonesia Raya.
Indonesia Raya,Merdeka, Merdeka Tanahku, negriku yang kucinta. Indonesia Raya,Merdeka, Merdeka Hiduplah Indonesia Raya
Setelah 62 tahun merdeka dari penjajahan fisik, bukan berarti perjuangan untuk mencapai kemerdekaan (lahir&bathin) sudah usai. 62 tahun lalu, kemerdekaan terhadap pemerintahan asing di deklarasikan. Mulai saat itu, bangsa Indonesia mempunyai kekuasaan untuk memerintah diri sendiri, bebas dari perintah bangsa lain.
Kemerdekaan setelah penjajahan selama 350 tahun tidak serta merta mengubah pola pikir merdeka, dalam artian merdeka dalam berfikir, bebas dari pengaruh bangsa lain, bebas berkreasi, dll. Banyak contoh yang memperlihatkan bahwa kita masih tergantung dengan bangsa lain. Salah satu kemerdekaan yang masih belum diperoleh hingga sekarang adalah kemerdekaan ekonomi (dan teknologi). Kita memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, tetapi belum punya teknologi untuk mengolahnya menjadi barang yang lebih berguna. sebagaian besar sumber daya dijual dalam bentuk barang mentah yang akhirnya kembali lagi ke Indonesia dalam bentuk barang jadi dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Kita punya gunung tembaga tetapi belum bisa mengolahnya menjadi tembaga murni, kita punya pasir besi tetapi belum bisa mengolahnya menjadi besi, kita punya bauksit tetapi belum bisa menglahnya menjadi alumunium, kita punya laut tetapi belum bisa memenuhi kebutuhan garam, kita punya tanah yang luas dan subur tetapi belum bisa memenuhi kebutuhan pangan sendiri, kita punya matahari sepanjang tahun tetapi gula masih impor, kita punya minyak bumi tetapi belum bisa mengubahnya menjadi bensin, kita punya segalanya tetapi tidak bisa mengubahnya menjadi apa-apa..
Di 62 tahun kemerdekaan Indonesia ini, Lets built our open mind to make a better life..
About Indonesian Football Team after final result of group stage at Asian Cup..
Menang atau kalah dalam sport bukanlah yang utama. Lebih dari itu, sport adalah bagaimana memberikan yang terbaik dengan berusaha semaksimal mungkin. Manang kalah hanyalah akibat (dengan sedikit keberuntungan tentunya) dari sebuah proses. Kalah terhormat akan lebih membanggakan daripada menang curang.
Untuk usaha maksimal yang sudah dilakukan, sepantasnya kita memberikan applaus untuk Timnas, yang sudah memberikan yang maksimal walaupun masih belum berhasil. Lihat bagaimana proses menuju hasil tersebut, lihat semangat itu.
Tradisi berusaha semaksimal mungkin pasti akan mendatangkan hasil yang maksimal, mungkin bukan sekarang, tapi tradisi yang dibangun secara konsisten akan dapat memberikan dampak pada langkah berikutnya.
Banyak orang yang mengaitkan bekerja dengan gaji sampai seolah-olah bekerja itu unutk gaji. Orang selalu beranggapan, klo ga digaji berarti ga kerja, atau ga mau kerja kalau ga di gaji. Ya, memang sewajarnya kalau bekerja itu dapat gaji., tapi bukan itu yang dimaksud bekerja?
Datang ke kantor pagi jam 7.00 scan sidik jari sebagai tanda hadir, kemudian duduk di belakang meja, tanpa menghasilkan apapun, dan setiap akhir bulan menerima gaji. Apa itu yang namanya kerja? Kerja itu berkarya, kalau disebut berkarya ya harus menghasilkan karya. Kalau kerjaan cuman dibelakan komputer dan ga menghasilkan apapun, apa itu disebut bekerja. Paid for nothing..
Kembali ke "karya".. karya itu bisa berupa apapun, bagi seorang seniman karya bisa berarti lukisan, patung, ilustrasi, naskah-naskah drama, puisi, lagu, novel, dll. Buat seorang engineer, karya itu ya berupa nilai tambah, atau menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Engineer bisa mengubah sampah menjadi energi, pasir manjadi mobil, rumput menjadi lembaran kertas, dll.
Bergabung dengan perusahaan multinasional, kalau yang kita lakukan disana adalah berfikir dan menghasilkan suatu metode yang dapat meningkatkan efisiensi, menghasilkan proses yang lebih ramah lingkungan, mengurangi limbah, itu baru namanya bekerja. Tapi kalau yang kita lakukan hanya ikut perintah atasan (atasan bilang A kita ikut A, atasan bilang B kita ikut B), padahal iu belum tentu bener tapi tetap kirta ikuti, itu berarti bukan bekerja. Kita hanya robot jika melakukan itu. Seperti layaknya komputer atau mesin ketik saja, dipencet A muncul A, dipencet B muncul B.
Aku, mungkin salah satu dari orang-orang yang belum bekerja..