Pak SBY, sebagai presiden yang dipilih mutlak oleh rakyat, anda sangat diharapkan dapat melindungi, mengayomi, menghidupi, segenap rakyat Indonesia. Anda juga diharapkan dapat menjaga keutuhan Indonesia sebagai Negara yang bermartabat sejajar dengan Negara-negara lain tanpa kecuali.
Namun sungguh sayang, beberapa kejadian belakangan ini menunjukkan anda gagal memenuhi harapan-harapan rakyat. Kami bosan setiap hari melihat ketimpangan-ketimpangan sosial, dimana yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, sumber daya alam Indonesia yang melimpah tidak digunakan untuk menghidupi rakyat Indonesia dan malah ditawar-tawarkan kepada asing (lihat contohnya kasus cadangan minyak di Cepu yang dengan serta merta di serahkan kepada Exxon padahal kita punya Pertamina). Kami bosan dengan berita-berita di surat kabar, internet, dll tentang penganiayaan para pekerja Indonesia di luar negeri, tentang para buruh yang menuntut dibayarkannya THR, dan masih banyak lagi. Apa iya tanah Indonesia yang sedemikian subur dan luasnya, pantai yang sedemikian panjangnya, kekayaan alam yang begitu banyaknya tidak mampu memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak untuk rakyatnya.
Pak SBY, anda besar di lingkungan militer, hidup dalam ketegasan dan kedisiplinan yang tinggi. Tapi mengapa ketagasan dan kedisiplinan itu tidak digunakan untuk melindungi rakyat atau untuk menjaga martabat bangsa. Mengapa ketika ada kesalahan pada saat anda teleconference, dengan sigap dan tegas anda minta jajaran yang bersangkutan segera ambil tindakan, tetapi mengapa ketika Negara tetangga melanggar batas-batas wilayah kita, mencuri kekayaan kita, anda hanya diam ketakutan seolah ketagasan anda menghilang bersembunyi dibalik kalimat “kasihan rakyat kecil kalau kita maju perang”. Bukan harus perang yang kami harapkan, tetapi ketagasan demi menjaga harga diri dan martabat. Melalui diplomasi yang tegas pun kami sudah puas, tidak harus dengan unjuk senjata. Tapi kalaupun harus perang, kami pun mendukung karena sejarah mengajarkan kepada kami bahwa lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati demi menjaga kehormatan daripada hidup penuh kehinaan.
Hidup di lingkungan militer berarti kontrak mati. Tetapi mengapa ketika foto anda dijadikan sasaran tembak (hanya foto saja) anda sudah ketakutan setengah mati. Ketika anda masuk ke dalam militer itu berarti anda sudah mati, jika sampai sekarang anda masih hidup itu harus disyukuri sebagai bonus, kalau sewaktu-waktu bonus itu dicabut ya harus diterima. Jika presiden harus dilindungi maka seharusnya rakyat pun juga, tanyakan pada korban serangan teroris di Bali, Jakarta, Ambon, dll apakah mereka merasa dilindungi. Belum lagi ketika di sepanjang jalan Jakarta terlihat begitu banyaknya anak-anak jalanan dan pengemis, apakah mereka merasa dilindungi, apakah mereka mendapatkan penghidupan yang layak, pendidikan, pengobatan, dll. Padahal jelas tertulis di UUD bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dilindungi oleh Negara.
Jika banyak rakyat yang sedemikian miskin dan hidup dalam kekurangan, mengapa banyak juga yang kaya raya. Bukankah sebagai rakyat semua berhak mendapatkan penghidupan yang layak. Sama-sama hidup di Indonesia, mengapa begitu jauh berbeda, bukankah seharusnya merata, tidak ada ketimpangan yang sangat jauh. Memang benar jika dihitung dengan statistic, dari tahun ke tahun kita mengalami pertumbuhan ekonomi, tapi apakah itu indikator bahwa kehidupan kita makin layak. Ataukah indicator itu ada karena banyak orang yang semakin kaya, sehingga jika di ambil rata-rata maka akan menunjukkan bahwa kita semakin makmur. Padahal angka-angka ekonomi itu sebenarnya adalah palsu, bisa jadi pertumbuhan ekonomi itu terjadi karena satu orang yang kekayaannya meningkat sangat banyak sedangkan lebih banyak lagi yang turun atau sedikit turun. Satu orang kaya raya, banyak orang makin miskin tetapi tetap saja dihitung sebagai pertumbuhan.
Bukan tentang kelayakan hidup saja yang tidak merata, juga tentang masalah hukum. Jika seorang pencuri ayam yang nilainya tak lebih dari seratus ribu rupiah di hukum satu bulan kurungan, maka seharusnya koruptor yang menghilangkan uang Negara satu miliar rupiah dihukum sepuluh ribu bulan penjara. Lihat bagaimana koruptor BLBI yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan hanya dihukum beberapa bulan, bandingkan dengan nenek tua yang mencuri satu buah kakao yang nilainya hanya beberapa ribu rupiah pun juga harus dihukum. Belum lagi kasus-kasus seperti Gayus misalnya, yang sudah jelas bukti-buktinya tetapi sampai saat ini belum diadili juga. Apakah seperti ini yang disebut dengan kesamaan derajat dimata hukum.
Masih banyak lagi sebenarnya curhat untuk pak SBY ini, tapi rasanya semakin ditulis semakin sakit rasanya. Kami tidak meminta pak SBY jadi dewa maha adil yang mampu member keadilan hukum, ekonomi, dll, atau jadi dewa maha kuat yang mampu melindungi rakyat dan menjaga kehormatan bangsa Indonesia. Bahkan bukan juga menjadi manusia setengah dewa karena kami tahu pak SBY juga manusia biasa. Kami hanya ingin pak SBY menggunakan logika nuraninya untuk menegakkan keadilan manusia, untuk pemerataan ekonomi manusia, melindungi dan menjaga kehormatan bangsa Indonesia semaksimal manusia bisa lakukan lepas dari tekanan-tekanan asing yang ingin bangsa kita hancur, lepas dari statistik-statistik yang dibuat-buat untuk menampilkan yang bukan sebenarya, lepas dari kepentingan untuk pribadi, dan memberikan yang terbaik untuk bangsa dan Negara ini tanpa ada embel-embel

0 comments:
Post a Comment