Kami langsung menghubungi dokter kandungan dan kemudian disarankan untuk ke rumah sakit saja, khawatir ada pecah ketuban sebelum waktunya. Akhirnya pagi itu kami langsung berangkat ke rumah sakit, kondisi jalan masih agak macet menambah panic.
Setelah sampai di rumah sakit, langsung menuju ke ruang bersalin, dan suster pun mulai mengecek kondisi istriku dan memang benar cairan yang keluar adalah ketuban, tapi masih bukaan rendah, artinya masih cukup lama waktu kelahiran anak pertama kami.
Suster masih terus melakukan pemantauan secara berkala, tetapi sampai siang masih belum ada tanda-tanda yang kuat. Hingga menjelang sore, kontraksi memang makin kuat tapi masih belum cukup sehingga dokter kandungan akhirnya memutuskan untuk memberikan perangsang untuk mempercepat kontraksi.
Ketika perangsang tersebut bekerja, kontraksi yang terjadi menjadi cukup kuat. Jika di siang hari skala kontraksi yang terlihat dari alat monitoring adalah sekitar 30 maka sekarang menjadi lebih dari 100 dan frekuensinya pun semakin cepat. Pertanda waktu kelahiran anak kami semakin dekat. Tapi ternyata bukaannya masih belum cukup, artinya istriku harus menahan sakit lagi. Rasanya hamper putus asa, tetapi istriku bertekad untuk melahirkan anak kami dengan normal.
Akhirnya bukaan 10, yang berarti prosesi kelahiran bisa dimulai. Dokter kandungan, bidan, suster, mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Periode mengejan dimulai, tapi setelah sekian lama dan tenaga sudah semakin terkuras, anak kami belum juga lahir. Waktu berbanding terbalik dengan tenaga, semakin lama tenaga semakin habis, hingga akhirnya jika harus di vacuum atau cesar pun aku akan menyetujuinya. Suster sudah menyiapkan alat vacuum, tetapi tiba-tiba kontraksi yang kuat datang, sukup panjang hingga akhirnya anak kami terlahir, tepat sebelum alat vacuum dipasang.
Rasa haru dan lega bercampur menjadi satu saat mendengar tangis mungil anak kami di dada istriku untuk inisiasi menyusui dini. Seluruh badannya pucat karena prosesinya terlalu lama, kepalanya juga masih oval karena melahirkan normal, tetapi kami bersyukur dapat melewatinya. Selamat datang di dunia anakku, namanya ‘Axelle Firenzi Aryasatya’, kami menanggilnya Axel.

Mengikuti masa-masa kelahiran anak kami membuatku tersadar betapa susahnya ibu kita dulu melahirkan kita, dan betapa berdosanya kita jika kita tidak membahagiannya semasa kita bisa.
Masa-masa bergadang
Setelah semuanya beres kami diperbolehkan pulang. Dan bertambahlah anggota keluarga kami. Masa awal-awal bayi masih sering rewel, minta minum susu, buang air kecil, buang air besar, dll hampir tidak pernah berhenti. Sekarang minta susu, sejam kemudian buang air kecil, kemudian minta susu lagi, buang air kecil lagi, begitu seterusnya. Maklumlah, namanya bayi, apalagi masih baru lahir, belum mengenal siang atau malam, sehingga waktu tidur kami masih terbatas. Ditambah lagi dengan jahitan istriku yang belum kering sehingga geraknya pun lebih tidak leluasa dan terbatas.
Memang saat itu terasa berat, bahkan di dikantor pun terkadang aku harus pergi ke mushola dulu untuk tidur sebentar karena memang mengantuk sekali, tapi kami menikmatinya. Menikmati sebagai orang tua baru. Walaupun badan
Mulai masuk kerja lagi
Satu bulan berlalu, Axel sudah mulai tumbuh dengan pesat. Sekarang anak kami tampak sedang lucu-lucunya, kulitnya putih bersih, rambutnya masih belum tumbuh lagi setelah dicukur habis setelah aqiqah, pipinya tampak tembem dan gendut.
Cuti melahirkan istriku sudah hampir habis. Kami sudah menyiapkan segalanya sebelum istriku mulai bekerja. Pengasuh Axel sudah ada (salah satu hal yang cukup melegakan) dan Axel pun sudah mulai terbiasa. Stok ASI perah untuk Axel juga sudah ada beberapa botol dan kami juga mulai mangajarinya untuk minum susu dengan cup feeder maupun sendok, tetapi lebih banyak yang terbuangnya. Akhirnya kami memutuskan untuk memberikan susu dengan dot yang dirancang untuk bayi baru lahir dan natural agar Axel tidak lupa putting.
Awalnya kami khawatir Axel akan lupa putting seperti yang diceritakan beberapa orang, namun kami bersyukur itu tidak terjadi.
Masa-masa ini mungkin menjadi awal yang berat untuk istriku. Meninggalkan Axel dirumah untuk bekerja kembali.
Tengkurap, merayap, belajar merangkak, dan duduk
Axel berumur 3 bulan waktu pertama kali tengkurap sendiri. Semakin hari semakin bertambah lucu anak ini. Gerakannya juga semakin aktif, suaranya makin keras. Kadang kadang kesal, menangis, ataupu tertawa. Siklus tidurnya pun sudah teratur. Ini benar-benar anugrah buat kami. Ketika melihatnya tidur nyenyak, rasanya damai sekali hidup ini, seakan-akan semua masalah hilang ketika melihatnya tidur nyenyak.
Semakin bertambah umur, semakin banyak perkembangan Axel. Berawal dari tengkurap, kemudian berusaha bergerak, merayap, hingga kemudian belajar merangkak dan duduk. Suara celotehannya juga semakin banyak dank eras. Tingkahnya semakin lucu dan menggemaskan.
Ketika harus meninggalkannya..
Hari itu ada tawaran untuk mengerjakan proyek di negeri seberang. Aku ditawari untuk jadi salah satu tim yang ikut dalam proyek tersebut. Bimbang juga waktu itu, tapi aku harus bicarakan dengan istri. Meninggalkan Axel yang sedang tumbuh lucu-lucunya adalah hal yang berat buatku. Tetapi proyek ini juga berarti peluang, setidaknya untuk mengamankan keuangan kami yang sebenarnya tidak terlalu krisis-krisis amat. Selain itu juga pengalaman yang akan di dapat. Dan setelah berfikir baik-buruknya akhir nya kami memutuskan untuk menerima tawaran itu.
Dalam beberapa minggu kemudian, tibalah saat untuk berangkat ke negeri seberang, tempat yang belum kukenal, dengan meninggalkan anak dan istri di rumah. Terasa berat, tapi toh aku juga harus tetap berangkat.
Awal-awal jauh dari keluarga terasa begitu berat, waktu seolah-olah lama berputar. Maka ketika ada kesempatan pulang, aku tidak melewatkannya meskipun dengan biaya sendiri. Hari itu saat aku pulang, Axel pas berumur 6 bulan, artinya ASI ekslusif sudah berakhir dan saatnya Axel mulai makan makan tambahan.
Masa-masa itu Axel mulai mengenali dunianya dengan mulutnya. Semua benda yang dapat diraihnya dimasukkan ke mulut. Begitu juga pada saat pertama kali makan, sendok yang disuapkan diraih dengan tangannya untuk dimasukkan ke mulutnya, akibatnya banyak manakannya yang tumpah.
Belum puas bermain-main dengan Axel, aku sudah harus kembali meninggalkannya, kembali ke proyek.
Dari jauh aku selalu memantau perkembangan Axel, walaupun hanya lewat foto atau video yang dikirimkan istriku. Semakin hari axel semakin aktif, sekarang sudah mulai merangkak dan kadang-kadang duduk walaupun masih disangga dengan tangannya. Geraknya sudah semakin luas, kami senang sekaligus was-was. Pernah suatu hari Axel jatuh dari tempat tidur, walaupun sudah di pagari dengan bantal guling tetali ternyata itu tidak cukup untuk menghentikannya. Sedih sekali rasanya mendengarnya terjatuh dari tempat tidur yang cukup tinggi. Tetapi syukurlah dia tidak apa-apa. Hari ini Axel sudah berumur 7 bulan +, dan aku semakin kangen. Tidak sabar lagi ingin menggendongnya, bermain-main, jalan-jalan pagi, melihatnya main-main air ketika dimandikan, melihatnya tidur nyenyak, dan mengikuti setiap gerak-geriknya.
I miss you son..
Miri, 15 Juli 2010



0 comments:
Post a Comment