Seorang pemimpin yang baik harusnya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya. Jika kondisi rakyatnya senang maka pemimpinnya senang, begitu juga sebaliknya. Memang idealnya seperti itu, tapi kondisi yang terjadi bukanlah seperti itu, bahkan mendekatipun tidak. Ambil salah satu contoh yang sederhana, di jalan masuk Cikeas dulu ada sebuah lubang yang cukup dalam sehingga menjadikan kurang nyaman untuk pengguna jalan, tapi itu tidak berlangsung lama karena beberapa hari kemudian sudah langsung di tambal. Berbeda sekali dengan kondisi jalan (masih disekitar situ) yang tidak dilewati SBY, jalan yang sudah rusak dibiarkan saja makin parah, bahkan kalau lewat jalan itu bisa dikategorikan olahraga offroad.
Hal yang sama juga terjadi ketika SBY dalam perjalanan. Dalam kondisi jalan yang sepadat apapun, SBY tidak pernah merasakan macet. Puluhan bahkan ratusa polisi dan serdadu bersenjata lengkap berdiri di sepanjang jalan menuju Cikeas. Kendaraan-kendaraan yang searah dipaksa menepi, kendaraan-kendaraan yang berlawanan arah diberhentikan hingga menimbulkan kemacetan yang panjang. Hanya demi kenyamaan seorang, kenyamanan ratusan orang terpaksa dikorbankan.
Hal ganjil lain dituliskan oleh detik.com, tentang rencana tinjauan SBY ke kolam lumpur Lapindo. Sebelum kunjungan ke lokasi, tanggul kolam yang biasanya hanya berupa tanah langsung di paving rapid an beratap, sehingga menjamin kenyamanan SBY yang akan berkunjung. Ya bagaimana bisa merasakan kepedihan para korban lumpur kalau melihatnya dari “istana”, bukannya terjun langsung dengan kondisi yang actual. Jangan-jangan kalau SBY mau berkunjung di desa miskin (entah apakah ada kegiatan semacam ini), maka rumah-rumah yang jelek langsung ditutup dengan seng tinggi agar tidak terlihat (mirip seperti di Bandung pada saat KAA lalu). Sehingga yang SBY tau adalah rakyatnya sudah makmur, tidak ada lagi rakyat miskin, dan mulailah menganggap bahwa program ekonominya telah berhasil mengentaskan kemiskinan.
Seorang pemimpin harusnya orang yang mampu melindungi rakyatnya, bukan malah berlindung dibalik rakyat. Jika kondisi perang, pemimpin harusnya orang yang berada di barisan paling depan, sehingga jika ada tembakan dia adalah orang yang pertama kali tertembak, mati demi melindungi rakyat. Namun, disini yang terjadi adalah kebalikannya, pemimpin adalah orang yang paling makmur, dengan fasilitas yang serba mewah. Kemana-mana dengan mobil yang mewah walaupun rakyatnya menderita. Rakyat kecil diwajibkan untuk membayar pajak, sementara para pemimpinnya sibuk menghabiskan uang pajak. Yang menjadi fasilitas lah, yang dikorupsi lah..
Kondisi seperti itu bukan terjadi pada pemimpin yang tidak “disukai” rakyat. SBY menang mutlak dengan 60% lebih suara, atau mungkin justru karena itu maka SBY merasa seperti raja. Aku merasa kasihan pada 60% lebih rakyat yang memilihnya dan merasa bersyukur karena dalam pemilu lalu aku tidak pernah memilih SBY.
Hal yang sama juga terjadi ketika SBY dalam perjalanan. Dalam kondisi jalan yang sepadat apapun, SBY tidak pernah merasakan macet. Puluhan bahkan ratusa polisi dan serdadu bersenjata lengkap berdiri di sepanjang jalan menuju Cikeas. Kendaraan-kendaraan yang searah dipaksa menepi, kendaraan-kendaraan yang berlawanan arah diberhentikan hingga menimbulkan kemacetan yang panjang. Hanya demi kenyamaan seorang, kenyamanan ratusan orang terpaksa dikorbankan.
Hal ganjil lain dituliskan oleh detik.com, tentang rencana tinjauan SBY ke kolam lumpur Lapindo. Sebelum kunjungan ke lokasi, tanggul kolam yang biasanya hanya berupa tanah langsung di paving rapid an beratap, sehingga menjamin kenyamanan SBY yang akan berkunjung. Ya bagaimana bisa merasakan kepedihan para korban lumpur kalau melihatnya dari “istana”, bukannya terjun langsung dengan kondisi yang actual. Jangan-jangan kalau SBY mau berkunjung di desa miskin (entah apakah ada kegiatan semacam ini), maka rumah-rumah yang jelek langsung ditutup dengan seng tinggi agar tidak terlihat (mirip seperti di Bandung pada saat KAA lalu). Sehingga yang SBY tau adalah rakyatnya sudah makmur, tidak ada lagi rakyat miskin, dan mulailah menganggap bahwa program ekonominya telah berhasil mengentaskan kemiskinan.
Seorang pemimpin harusnya orang yang mampu melindungi rakyatnya, bukan malah berlindung dibalik rakyat. Jika kondisi perang, pemimpin harusnya orang yang berada di barisan paling depan, sehingga jika ada tembakan dia adalah orang yang pertama kali tertembak, mati demi melindungi rakyat. Namun, disini yang terjadi adalah kebalikannya, pemimpin adalah orang yang paling makmur, dengan fasilitas yang serba mewah. Kemana-mana dengan mobil yang mewah walaupun rakyatnya menderita. Rakyat kecil diwajibkan untuk membayar pajak, sementara para pemimpinnya sibuk menghabiskan uang pajak. Yang menjadi fasilitas lah, yang dikorupsi lah..
Kondisi seperti itu bukan terjadi pada pemimpin yang tidak “disukai” rakyat. SBY menang mutlak dengan 60% lebih suara, atau mungkin justru karena itu maka SBY merasa seperti raja. Aku merasa kasihan pada 60% lebih rakyat yang memilihnya dan merasa bersyukur karena dalam pemilu lalu aku tidak pernah memilih SBY.

0 comments:
Post a Comment